Korea Selatan Mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung untuk Mengatasi Kelangkaan Lahan

10-03-2022

    Floating Solar

    Pembangkit listrik tenaga surya terapung menggunakan panel surya yang dipasang pada pelampung plastik, yang kemudian mengapung di permukaan air.


    Panel surya terapung ini umumnya ditempatkan di badan air buatan—waduk air kota, waduk irigasi, atau fasilitas terapi air.


    Menjelang akhir tahun lalu, pengembang energi surya Korea Selatan, Scotra, menyelesaikan pembangunan instalasi tenaga surya terapung berkapasitas 41 MW di waduk Bendungan Hapcheon. Negara yang kekurangan lahan ini telah menetapkan target untuk memasang 2,1 GW tenaga surya terapung pada tahun 2030 dan menjadi negara netral karbon pada tahun 2050.


    Pembangkit listrik tenaga surya terapung menggunakan panel surya yang terhubung ke pelampung plastik, yang kemudian mengapung di permukaan air. Pembangkit listrik tenaga surya terapung ini biasanya ditempatkan di badan air buatan—waduk air komunitas, waduk irigasi, fasilitas terapi air—untuk menghindari gangguan terhadap spesies tumbuhan dan hewan yang hidup di badan air alami.


    Pembangkit listrik terapung berkapasitas 41 MW ini merupakan proyek terbesar sejenis di Korea Selatan, yang hingga saat ini telah menunjukkan kemajuan pesat dalam energi terbarukan. Selain itu, diharapkan susunan panel surya yang menyerupai bunga ini akan menarik banyak wisatawan ke negara Asia Timur tersebut.


    Scotra juga telah membangun pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 25 MW di sebuah waduk di distrik Jeollanam di Korea Selatan, selain pembangkit berkapasitas lebih kecil di tempat lain. Saat ini, proyek terbesarnya yang sedang berjalan adalah proyek 72 MW di bendungan Saemangeum di Laut Kuning.


    Terlepas dari biaya pembangunannya yang mahal, proyek-proyek terapung ini menawarkan sejumlah keuntungan: konektivitas yang sangat mudah ke jaringan listrik melalui pembangkit listrik tenaga air serta waduk di dekat lokasi perkotaan; menghambat pertumbuhan alga; efek pendinginan air pada panel membuatnya lebih efektif; sumber pendapatan tambahan; pengurangan penguapan.


    Namun, keunggulan utama pembangkit listrik tenaga surya terapung adalah teknologi modern ini tidak memerlukan lahan sama sekali, yang menjelaskan popularitasnya di beberapa negara Asia, di mana sebagian besar lahan digunakan untuk properti dan pertanian:

    1. Thailand membangun sistem hibrida tenaga surya terapung hidro terbesar di dunia di waduk Sirindhorn tahun lalu;

    2. Singapura sebenarnya telah memulai pembangunan pembangkit listrik puncak 60 MW di Waduk Tengeh;

    3. India berencana menyelesaikan pembangkit listrik raksasa berkapasitas 600 MW di atas bendungan Omkareshwar pada tahun 2023;

    4. Tahun lalu, Indonesia mulai membangun pembangkit listrik Cirata 145 MW, yang kemungkinan akan menjadi proyek pembangkit listrik tenaga surya terapung terbesar di Asia Tenggara.


    Selain itu, di Korea Selatan, peraturan lahan, tarif, dan penolakan dari masyarakat sekitar telah mempersulit pembangunan proyek-proyek skala besar, menurut beberapa analis. Sejauh ini, salah satu proyek tenaga surya terapung yang paling menjanjikan di negara tersebut adalah fasilitas tenaga surya terapung berkapasitas 2,1 GW yang sedang dibangun di dekat rawa-rawa Saemangeum di pantai Laut Kuning. Meskipun 1,2 GW diperkirakan akan siap pada akhir tahun 2022, kapasitas proyek yang tersisa diharapkan akan ditambahkan pada tahun 2025.


    Industri tenaga surya terapung diperkirakan akan tumbuh signifikan dalam dekade mendatang, mengingat panel yang berada di perairan juga dapat memanfaatkan energi dari laut. Di tempat di mana lahan terbatas dan air melimpah, keinginan akan energi terbarukan tetap hidup melalui tenaga surya terapung!



Berita ini bersumber dari: List Solar


Dapatkan harga terbaru? Kami akan merespons sesegera mungkin (dalam 12 jam)

Rahasia pribadi